Tuesday, July 5, 2011

Mampukah Aku Menjadi Wanita Sholeha

Aku ingin menjadi wanita yang cerdas, 
walau mungkin aku tak kan pernah sanggup menyamai Ibunda Aisyah

Aku ingin menjadi wanita yang Sabar seperti Fatimah Az-Zahra
sabar dalam setiap keadaan

Aku ingin menjadi wanita yang Tegar seperti Ummu Sulaim, 
Tegar dalam menghadapi segala cobaan hidup

Aku ingin menjadi wanita yang Lembut,
walau aku sadar tak kan sanggup aku menjadi selembut Ibunda Khadijah

Aku ingin menjadi wanita yang berani seperti Ibunda Shafiyah, 
berani mengatakan yang benar itu adalah benar dan yang bathil itu bathil.

Ya Rabb, bimbing aku, hingga ku dapat menjadi wanita sholeha penghias dunia penghuni Syurga Aamiin.

mari sahabat, kita renungi sebuah puisi dibawah ini ;


“MAMPUKAH AKU MENJADI WANITA SHOLEHA”
The beauty of a woman is not in the clothes she wears, the figure that she carries,or the way she combs her hair.
The beauty of a woman must be seen in her eyes,because that is the doorway to her heart, the place where love resides.
The beauty of a woman is not in a facial mole,
But true beauty in a woman is reflected in her soul.
It is the caring that she lovingly gives, the passion that she shows and the beauty of a woman.
With passing years-only grows!





Mampukah aku menjadi seperti Siti Khadijah?
Agung cintanya pada Allah dan Rasulullah
Hartanya diperjuangkan ke jalan fisabilillah
Penawar hati kekasih Allah
Susah dan senang rela bersama…

Dapatkah ku didik jiwa seperti Siti Aishah?
Isteri Rasulullah yang bijak
Pendorong kesusahan dan penderitaan
Tiada sukar untuk dilaksanakan…

Mengalir air mataku
Melihat pegorbanan puteri solehah Siti Fatimah
Akur dalam setiap perintah
Taat dengan ayahnya, yang sentiasa berjuang
Tiada memiliki harta dunia
Layaklah dia sebagai wanita penghulu syurga…

Ketika aku marah
Inginku intip serpihan sabar
Dari catatan hidup Siti Sarah….

Tabah jiwaku
Setabah umi Nabi Ismail
Mengendong bayinya yang masih merah
Mencari air penghilang dahaga
Diterik padang pasir merak
Ditinggalkan suami akur tanpa bantah
Pengharapannya hanya pada Allah
Itulah wanita Siti Hajar….

Mampukah aku menjadi wanita solehah?
Mati dalam keunggulan iman
Bersinar indah, harum tersebar
Bagai wanginya pusara Masyitah….

semoga kita semua (para akhwat) dapat terus berusaha tuk menjadi wanita sholeha, sebagaimana yang disebutkan bahwa “sebaik-baik perhiasan dunia adalah Wanita yang Sholeha”.


by us  : Komunitas Hijab Indonesia 
       -Fahda Lania
salam : An-nisa

Photograph



Ghadul Bashar

bismillahirrahmanirrahim

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
 
Artinya : “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.” (TQS. An-Nuur : 30-31)

-Kisah Ubaid bin Umair tentang Ghadul bashar

Abdullah bin Muslim al-‘Ajali menceritakan bahwa di kota Mekkah ada seorang laki-laki yang mempunyai istri yang cantik jelita. Pada suatu hari, sang istri berkaca dan memperhatikan wajahanya yang cantik jelita itu. Lalu, ia berkata kepada suaminya, “Menurut kamu, adakah seseorang yang tidak tergoda dan tertarik ketika melihat wajahku yang cantik ini?” Sang suami berkata, “Ada.” Sang istri berkata, “Siapa?” Sang suami menjawab, “Ubaid bin Umair.” Sang Istri berkata, “Kita buktikan, izinkan aku untuk merayu dan menggodanya.” Sang suami berkata, “Baiklah aku izinkan kamu.”

Kemudian sang sitri pergi menemui Ubaid bin Umair dengan berpura-pura ingin meminta fatwa dan bertanya tentang suatu masalah. Lalu Ubaid bin Umair mengajak ke salah satu sisi Masjidil Haram.

Namun tiba-tiba si wanita terebut membuka tutup wajahnya. Sehingga, terlihatlah wajahnya yang cantik jelita bak belahan purnama. Ubaid bin Umair pun kaget dan spontan berkata, “Celaka kamu wahai hamba Allah!” Si wanita berkata, “Sesungguhnya aku telah tergoda dan tertarik kepada kamu. Karena itu, tolong pertimbangkan keinginanku ini.”

Ubaid bin Umair berkata, “Aku akan mengajukan kepadamu beberapa pertanyaan. Jika kamu mau menjawabnya dengan jujur, maka aku akan pertimbangakan keinginanmu ini.” Si wanita berkata, “Kamu tidak melontarkan pertanayan kepadaku kecuali akan aku jawab dengan jujur.”

Kemudian Ubaid bin Umair berkata, “Katakan kepadaku dengan jujur. Jika sekarang malaikat maut datang dan mencabut nyawamu, apakah kamu senang jika sekarang aku memenuhi keinginanmu ini?” Si wanita berkata, “Tentu saja tidak.”

Lalu Ubaid bin Umair berkata, “Bagus, berarti kamu memang jujur. Ingatlah tatkala semua makhluk dihidupkan kembali pada hari kiamat untuk menerima buku catatan amal mereka masing-masing. Dan, kamu sendiri tidak tahu apakah kamu akan menerima buku catatan amal kamu dengan tangan kanan atau kiri. Apakah kamu senang jika aku memenuhi kenginanmu ini?” Si wanita menjawab, “Tentu saja tidak.”

Ubaid bin Umair berkata, “Bagus, kamu menjawab dengan jujur. Ketika datang waktu penimbangan amal, lalu kamu tidak tahu apakah timbangan amal kebaikanmu lebih berat atau lebih ringan. Apakah kamu senang jika aku memenuhi keinginanmu ini?” Si wanita menjawab, “Tentu saja tidak.”

Kemudian Ubaid bin Umair berkata, “Bagus, kamu menjawab dengan jujur. Lalu, ingatlah ketika kamu dihadapkan kapada Zat Yang Maha Adil untuk diadili. Apakah kamu senang jika aku memenuhi keinginanmu ini?” Si wanita menjawab, “Tentu saja tidak.”

Ubaid bin Umair berkata, “Bagus, kamu menjawab dengan jujur.” Lalu, ia berkata lagi kepadanya, “Hai hamba Allah, takutlah kamu kepada-Nya. Karena sesungguhnya Allah telah memberi karunia dan nikmat kepada kamu.”
Lalu, si wanita tadi pun kembali ke rumahnya. Setelah tiba di rumah sang suami langsung bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu perbuat terhadapnya (Ubaid bin Umair)?” Si Si istri menjawab, “Kamu memang orang yang hina, kita berdua memang benar-benar orang yang hina.”
Setelah kejadian itu, si istri berubah total. Sehari-harinya ia hanya disibukkan dengan shalat, puasa, dan ibadah-ibadah yang lainnya. Sehingga, suaminya menggerutu kesal dan berkata, “Celaka aku, apa sebenarnya yang telah dilakukan Ubaid bin Umair terhadap istriku sehingga berubah seperti sekarang ini. Dahulu setiap malam istriku bertingkah bak pengantin baru, tapi sekarang Ubaid bin Umair telah mengubahnya menjadi seorang rahib (orang ahli ibadah).”
(Ibnul Jauzi, Dzammul Hawaa, hlm. 265,266.)

RasuluLlah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
Pandangan mata adalah panah beracun dari iblis. Siapa yang meninggalkan karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberikannya keimanan yang dirasakan kenikmatannya dalam hati.”
(HR Hakim, Thabrani, dan Baihaqi, diambil dari buku “Menahan Pandangan Menjaga Hati” (Ghadhdhul Bashar) karya Abdul Aziz al-Ghazuli, terbitan Gema Insani Press)
SubhanaLlah (Maha Suci Allah)..

- Hikmah Ghadul bashar
Berikut ini adalah beberapa manfaat dari menundukkan pandangan, semoga bermanfaat.

1. Mensucikan hati dari pedih dan sakitnya sebuah penyesalan

2. Menundukan dan menahan pandangan akan mewariskan dan melahirkan ketajaman firasat

3. Menundukkan dan menjaga pandangan akan membukakan jalan-jalan ilmu dan pintunya

4. Dengan menundukkan pandangan akan melahirkan kekuatan hati, keteguhan dan keberaniannya

5. Menundukan pandangan akan melahirkan kebahagiaan dan kegembiraan dihati, serta kelapangan di dada yang mana lebih besar daripada kenikmatan yang diperoleh dari pandangan itu sendiri

6. Dengan menundukan pandangan akan membersihkan hati dari kungkungan dan tawanan syahwat

7. Menundukkan pandangan dan menjaganya akan menutup satu pintu dari pintu-pintu jahannam

8. Menundukkan pandangan akan menambah kekuatan daya dan akalnya

9. Menundukkan pandangan akan membersihkan dan mensucikan hati dari debu dan kotoran syahwat serta daki-daki kelalaian (QS. 15:72)
wallahu A'lam...
 
 ------

alhamdulillah, hanya ingin share ukh,
source:
(Ibnul Jauzi, Dzammul Hawaa, hlm. 265,266.)
semoga bermanfaat :)
salam : An-nisa


Sunday, July 3, 2011

Untukmu Akhwat Fillah (2)


Hai sobat,
Tetaplah menjadi rembulan teduh yang selalu menyinari bumi
Dengan cahaya kemilaumu
Walaupun banyak insan2 yang menertawaimu
Biarlah bentangan langit yang menjadi saksi
Biarlah desau angin yang mengabari
Dan sampai kapanpun tetaplah menjadi permata
yang berkilau indah
Disudut-sudut hati yang merinduimu
tidak ada yang paling membahagiakan hati ini
Selain menatap wajahmu yang bercahaya riang
Dengan balutan jubah surgamu.
Dan berjanji setialah selalu kepada-Nya
untuk tetap mengenakan gaun surgamu
seperti janji setianya mentari yang selalu setia menyinari bumi.
—kiriman dari: Herman Al-Muhtasib
by : Indonesian Hijab Community :)